Kritik Hukum Auguste Comte

Kritik Hukum tiga tahap yang di kemukakan oleh Auguste Comte 

1.Tahap Teologis
Semua hal yang ada dan terjadi dalam realitas sosial di kaitkan dengan supranatural. Namun hal ini kurang tepat jika semua hal di kaitkan dengan supranatural, karena supranatural bersifat tertutup dan tidak bisa di lihat dengan mata telanjang, hanya keyakinan lah yang bisa menguatkan paham ini.
2.Tahap Metafisik
Pada tahap ini sudah mengalami pengalihan dari supranatural ke sifat abstrak. Seiring dengan perkembangan pemikirannnya, maka supranatural di alihkan ke sifat yang abstrak atau tidak terlihat. Tahap ini juga masih belum tepat ketika di kaitkan dengan realitas sosial yang ada. Karena sifat abstrak di sini yang di maksud adalah bersifat ghaib atau biasa di sebut mistis
3.Tahap Positivis
Segala yang terjadi pada realitas sosial di lihat berdasarkan pada data – data empiris atau bersifat nyata, sesuatu yang bisa di lihat dengan mata telanjang. Pada tahap ini sudah  termasuk mendekati kebenaran ketika di kaitkan dengan realitas sosial, karena melihat realitas sesuai dengan data empiris atau apapun yang sedang terjadi sekarang.
1.Jadi hukum tiga tahap yang telah di kemukakan oleh Auguste Comte dalam melihat Realitas Sosial akan tepat ketika mempadukan ke tiga tahap tersebut. Karena jika hanya memakai salah satu tahap maka akan sinkron atau terjadi keganjalan.
2. Saya tinggal di daerah semi perkotaan tepatnya di Dusun Krajan, Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi. Masyarakat di daerah saya karakter masyarakatnya tidak terlalu desa dan kota, melainkan bersifat semi, dalam hal solidaritas, kadang mereka tergolong solidaritas mekanik dan organik dan juga kadang ke duanya. Misalnya dalam hal gotong royong membuat rumah tidak begitu antusias berbondong – bondong ikut serta membantu karena mereka sibuk dengan pekerjaannya masing – masing. Namun ketika di saat tasyakuran rumah tersebut sebagian kecil ibu – ibu antusias untuk menunjukkan rasa solidaritasnya dengan cara membawa beras, gula, dan bahan logistic lainnya. Hal ini tidak semua di lakukan oleh ibu – ibu hanya sebagian saja. Dan sistem kepercayaan yang bersifat abstrak sudah mulai luntur, seiring dengan perkembangan zaman. Masyarakatnya pun terbangun karena perbedaan berasal dari berbagai daerah hingga logat bicaranya pun berbeda – beda. Juga tidak begitu menuntut konformitas. Jadi menurut saya kondisional, kadang solidaritas masyarakatnya mekanik kadang juga organik.
3. Pengertian dari Birokasi sendiri yakni usaha menyejahterakan masyarakat. Di Desa saya tepatnya Desa Bangorejo terjadi penyimpangan Birokrasi, dalam menjalankan tugasnya kepala desa ternyata kurang mampu, beliau membayar orang lain di luar struktur anggota pengurus desa untuk menyelesaikan beberapa tugasnya. Dan anggota pengurus desa kebanyakan dari saudara kepala desa sendiri. Padahal masih banyak orang yang lebih mampu untuk menjadi pengurus desa. Beliau hanya mengangkat pengurus – pengurusnya dari keluarganya sendiri, hal ini bisa di katakan Nepotisme.
4. Saya setuju dengan gagasan Karl Marx pada pembahasan Marx Tua masyarakat tanpa kelas. Perubahan masyarakat tanpa kelas ini terjadi melalui Revolusi dengan cara menggulingkan kaum Borjuis, untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas, karenadi dalamnya akan tercipta tidak ada perbedaan antar kelas Borjuis dan kelas Proletar, hingga semuanya sama dan bebas, sewaktu – waktu masyarakat bisa berkembang karena tidak terjadi penindasan dari kaum borjuis terhadap kaum proletar, melainkan semuanya sama atau setara. Namun sayangnya hingga sekarang masyarakat tanpa kelas masih belum terwujud, karena sistem kapitalisme masih berlaku. Misalnya pada kasus buruh pabrik, selamanya akan tetap menjadi buruh, dan pemilik modal tetap menjadi pemilik modal.
   Saya tidak setuju pada teori kelas dwi model atas (penindas) dan bawah (buruh). Karena dalam teori ini menganut sistem kapitalisme, yang kaum bawah akan selamanya menjadi kaum buruh dan kaum atas akan menjadi kaum penindas, jadi tidak adanya perkembangan dan masyarakat akan stagnan. Tidak adanya kenaikan kelas.


Kritik Hukum Auguste Comte Kritik Hukum Auguste Comte Reviewed by Penjualhewan.com on 04:36 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.